Monday, August 30, 2010

Hedonis Berperikemanusiaan

Saya terkadang tertegun bila sedang melamun. (Benar-benar melamun tentunya, tanpa terdistraksi oleh kilapan merah dari si beri hitam manis itu.)

"Kok bisa ya hidup jadi seperti ini?" Bukannya menyombongkan diri, tapi segala sesuatu berjalan lancar-lancar saja. Mungkin Tuhan bahagia melihat saya bahagia, meskipun diri ini tidak ingin terikat dengan denominasi religius manapun.

Tapi hidup yang mulus ini terasa terlalu nyaman, bagaikan sedang berseluncur salju dalam trek tiada batas.

Stres memang tak jarang mampir dalam keseharian, tapi kalau sudah masuk ke ranah hedonistik, saya merasa seperti seorang jawara--sebuah stereotipe yang diabadikan dengan apik oleh empunya akun Twitter @ABGJakarta.

1) Kopi: Starbucks
2) Restoran: Sushi Tei
3) Pakaian: Zara
4) Alat halo-halo: BlackBerry

Duit pun tidak saya dapatkan dengan banting tulang. Tinggal selipkan kartu di ATM dan lembaran Rupiah dengan mudahnya keluar. Dan dengan mudahnya pula dihabiskan.

Saya bersyukur bisa makan enak, pakai baju mahal, dan ini-itu. Saya juga bersyukur bahwa keluarga saya bisa terus-menerus mendukung gaya hidup saya yang seperti ini.

Namun saya juga malu. Malu sama mereka yang berangkat kerja dari sebelum matahari terbit, hanya untuk pulang malam, berdesak-desakkan dalam bus kota yang pengap. Jangankan jalan-jalan, gaji pun hanya cukup untuk makan sederhana tiap hari dan membelikan buku sekolah bekas bagi sang anak.

Ya, saya kuliah, saya berpikir, saya bangun sampai larut malam untuk mengerjakan tugas (itu pun karena prokrastinasi akut). Istilahnya, saya tidak malas-malas amat toh.

Meskipun demikian, tetap saja saya merasa tak enak, harus menghadapi realita ketidaksetaraan semacam ini.

Mungkin masyarakat egalitarian harus diciptakan. Utopis mungkin, tapi saya mungkin bisa berkontribusi dengan menjalankan hidup dengan lebih--frugal? Contoh: meracik kopi sendiri (cukup dengan air panas dan kopi bubuk sachet)yang dimasukkan ke dalam tumbler yang bisa dibawa kemana-mana, ketimbang harus mengeluarkan kocek sekitar empat puluh ribu. Toh, sama saja efek kafeinnya. (Bahkan contoh saya saja terkesan superfisial. Maaf.)

Walau dipikir-pikir, saya akan masih sekali-kali menghamburkan uang untuk kepuasan sesaat--menggoda, sih.

Kesimpulan: Kalau kenikmatan bisa dicapai dengan murah (dan mudah), kenapa tidak? Lagipula ada kenikmatan tipe lain yang tidak bisa dibeli dengan uang: manusia.

Ya, maksud saya teman dan kekasih. Mereka bisa menyediakan nikmat gosip dan nikmat birahi.

Itu baru hidup.

No comments:

Post a Comment