Monday, September 13, 2010

Ikatan Dijital

Bangun tidur, ku terus mandi.

Eh, salah. Di zaman masa kini, mari kita gubah lagu ini:

Bangun tidur, ku terus nge-tweet.

@namaku: "Baru bangun tidur, nih. Hoaaahmmm.... Males bergerak dari tempat tidur."

Kisah banal hidup saya terpampang lebar-lebar untuk dilihat dunia. Tiba-tiba saya merasa selebritis, tiap follower saya penasaran saya sedang apa, sama siapa, makan apa, baca apa, dengar lagu apa.

Jalan pintas menuju popularitas? Bisa jadi.

Meskipun tetap saja terjerat. Oleh batas 140 karakter sialan itu.

Kotak-kotak Insekuritas

Di tengah-tengah dunia yang hiruk pikuk
Dalam jeratan kapitalisme pasar
Saya sendiri...

Bergumam,
"Bagaimana bisa makan hari ini?"

Susah. Uang tak mudah

Insekuritas berdatangan kembali

Monday, August 30, 2010

Dekonstruksi EGO

Sempat pikiran melintas: Untuk apa manusia memiliki rasa khawatir?

Banyak yang bilang, "Nikmatilah hidup. Toh pada akhirnya kita semua akan lenyap ditelan bumi."

Tapi banyak detail dalam hidup yang--tak dapat dipungkiri--selalu membuat kita was-was dan takut. Kalau saya boleh menjadi contoh, saya takut nilai ujian jelek; saya khawatir penampilan kumel--pokoknya semua hal buruk seperti itu.

Padahal bila dipikir kembali, saya tidak punya alasan untuk merasakan kegalauan dalam hati. Mungkin ini semua berhubungan dengan citra baik yang ingin saya konstruksi bagi publik. (Ingin rasanya menjadi salah satu traffic-stopper itu; membuat orang berdecak kagum ketika melangkah ke dalam ruangan.)

Kenalkan, namanya EGO. Dialah yang membuat saya khawatir tiap saat.

EGO. Harus saya hajar habis-habisan dia.

Hedonis Berperikemanusiaan

Saya terkadang tertegun bila sedang melamun. (Benar-benar melamun tentunya, tanpa terdistraksi oleh kilapan merah dari si beri hitam manis itu.)

"Kok bisa ya hidup jadi seperti ini?" Bukannya menyombongkan diri, tapi segala sesuatu berjalan lancar-lancar saja. Mungkin Tuhan bahagia melihat saya bahagia, meskipun diri ini tidak ingin terikat dengan denominasi religius manapun.

Tapi hidup yang mulus ini terasa terlalu nyaman, bagaikan sedang berseluncur salju dalam trek tiada batas.

Stres memang tak jarang mampir dalam keseharian, tapi kalau sudah masuk ke ranah hedonistik, saya merasa seperti seorang jawara--sebuah stereotipe yang diabadikan dengan apik oleh empunya akun Twitter @ABGJakarta.

1) Kopi: Starbucks
2) Restoran: Sushi Tei
3) Pakaian: Zara
4) Alat halo-halo: BlackBerry

Duit pun tidak saya dapatkan dengan banting tulang. Tinggal selipkan kartu di ATM dan lembaran Rupiah dengan mudahnya keluar. Dan dengan mudahnya pula dihabiskan.

Saya bersyukur bisa makan enak, pakai baju mahal, dan ini-itu. Saya juga bersyukur bahwa keluarga saya bisa terus-menerus mendukung gaya hidup saya yang seperti ini.

Namun saya juga malu. Malu sama mereka yang berangkat kerja dari sebelum matahari terbit, hanya untuk pulang malam, berdesak-desakkan dalam bus kota yang pengap. Jangankan jalan-jalan, gaji pun hanya cukup untuk makan sederhana tiap hari dan membelikan buku sekolah bekas bagi sang anak.

Ya, saya kuliah, saya berpikir, saya bangun sampai larut malam untuk mengerjakan tugas (itu pun karena prokrastinasi akut). Istilahnya, saya tidak malas-malas amat toh.

Meskipun demikian, tetap saja saya merasa tak enak, harus menghadapi realita ketidaksetaraan semacam ini.

Mungkin masyarakat egalitarian harus diciptakan. Utopis mungkin, tapi saya mungkin bisa berkontribusi dengan menjalankan hidup dengan lebih--frugal? Contoh: meracik kopi sendiri (cukup dengan air panas dan kopi bubuk sachet)yang dimasukkan ke dalam tumbler yang bisa dibawa kemana-mana, ketimbang harus mengeluarkan kocek sekitar empat puluh ribu. Toh, sama saja efek kafeinnya. (Bahkan contoh saya saja terkesan superfisial. Maaf.)

Walau dipikir-pikir, saya akan masih sekali-kali menghamburkan uang untuk kepuasan sesaat--menggoda, sih.

Kesimpulan: Kalau kenikmatan bisa dicapai dengan murah (dan mudah), kenapa tidak? Lagipula ada kenikmatan tipe lain yang tidak bisa dibeli dengan uang: manusia.

Ya, maksud saya teman dan kekasih. Mereka bisa menyediakan nikmat gosip dan nikmat birahi.

Itu baru hidup.

Nafsu

Apakah cinta terbuat dari nafsu?

Ya, nafsu adalah bahan bakar. Nafsulah yang membuat kita bergerak, ke sana dan ke sini. Tanpanya, manusia mati. Tergeletak.

Tapi nafsu yang dimaksud di sini bukanlah passion, melainkan lust--nafsu erotik, yang membuat manusia ingin mencium, memeluk, dan memenuhi kebutuhan orgasmiknya.

Kembali ke awal: Tampaknya cinta memang terbuat dari nafsu. Biarkanlah saya mendeskripsikan cinta ini sebagai cinta "eros."

Nafsu antara dua insani yang dibalut dengan kemesraan dan keinginan untuk mengerang nikmat bersama.

Cinta dan nafsu, bagaikan aku dan kamu.